Apa Itu Postpartum? Cegah Ibu Depresi Pasca Melahirkan

Apa itu postpartum adalah informasi yang sangat penting untuk diketahui para calon ibu. Ini berguna untuk menentukan respon yang tepat pada masa pemulihan diri pasca melahirkan.

Oleh karena itu, sebaiknya ajak juga pasangan untuk memahami apa itu postpartum. Kerja sama dalam keluarga sangat berguna untuk mendukung para ibu melalui masa ini dengan kondisi fisik dan psikis yang sehat. 

Mengenal Postpartum

Sebagian orang mengenal masa postpartum dengan istilah masa nifas. Ini adalah waktu di mana ibu baru saja melahirkan dan sedang dalam proses pemulihan fisik. Ini menajdi salah satu fase berat bagi seorang wanita. Pada masa inilah wanita mesti beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu guna merawat bayi sembari memulihkan diri sendiri.

Oleh karena itu, tidak jarang masa postpartum ditandai dengan perubahan emosi dan suasana hati. Pasca melahirkan adalah masa rawan bagi ibu mengalami tekanan psikis. Sensitif, mudah marah, bahkan menangis tanpa sebab yang jelas, cukup sering dilaporkan sebagai gejala gangguan postpartum.

Gangguan Mental pada Masa Postpartum

  1. Baby Blues

Ibu postpartum adalah  ibu dengan gangguan mental yang cukup berat. Ini berbeda dengan ibu yang mengalami baby blues. Baby blues sendiri adalah salah satu gangguan mental yang bisa muncul pada masa postpartum. 

Baby blues sebenarnya disebut dengan Postpartum Blues (PPB) atau Maternity blues. Baby blues hanya menyerang ibu pada dua hingga empat belas hari pasca melahirkan. 

Postpartum blues juga dianggap postpartum normal di mana pada masa ini ibu mengalami masa penyesuaian secara fisik dan mental. Dukungan pasangan dan keluarga umumnya bisa efektif membantu ibu melalui masa ini. 

  1. Postpartum Depression

Gangguan postpartum yang lebih serius dibanding baby blues disebut dengan postpartum depression. Selain dilihat dari masa menyerangnya, kondisi ini menunjukkan gejala yang lebih berat dibanding baby blues. Gejalanya meliputi:

  • Menyerang di masa lebih dari dua minggu pasca persalinan hingga beberapa bulan
  • Merasa tidak tertarik pada bayi atau merasa tidak terikat secara emosional
  • Menangis sepanjang waktu, seringkali tanpa alasan yang jelas
  • Merasa tidak berharga, putus asa, dan tidak berdaya khususnya terkait hal yang melibatkan hubungan ibu dan bayi
  • Sulit tidur atau sebaliknya, terlalu banyak tidur
  • Mengalami kecemasan berlebihan atau bahkan serangan panik (panic attack)
  • Merasa bersalah karena merasa dirinya tidak cukup bahagia akan kehadiran buah hati
  • Muncul pikiran untuk melukai diri atau bayi, dan lain-lain.

Apa itu postpartum depression bisa dipastikan dengan cara konsultasi dengan dokter. Ibu yang mengalami ini mungkin membutuhkan sesi konsultasi khusus atau bahkan konsumsi obat tertentu.

  1. Postpartum Psychosis

Ini adalah kondisi gangguan yang lebih parah dan sering menyerang pada tiga bulan pertama pasca melahirkan. Kondisi ini ditandai dengan halusinasi dan delusi.

Kebanyakan ibu yang mengalami ini dilaporkan merasa mendengar hal-hal tertentu seolah ada yang mengajaknya bicara hingga memercayai hal-hal yang tidak rasional. Wanita yang mengalami psikosis postpartum membutuhkan perawatan medis segera. 

Bagi para ibu yang merasa mengalami gangguan postpartum, dokter mungkin akan memasukkan gejala pada jenis postpartum tertentu. Selain tiga istilah tersebut, kamu mungkin juga akan mendengar istilah Postpartum anxiety, Postpartum trauma, atau Postpartum mania. Semua itu hanya dapat dipastikan dengan konsultasi ahli. 

Peran pasangan dan keluarga sangat penting untuk mendukung ibu melalui masa postpartum. Ajak pasangan untuk terlibat atau membantu dalam mengurus bayi dan jangan ragu meminta bantuan dari keluarga, kerabat, ataupun teman. 

Luangkan waktu untuk diri sendiri saat ibu merasa membutuhkan “Me time”. Jangan lupa, rutin melakukan kontrol pasca melahirkan juga menjadi kunci untuk mendapat informasi tepat mengenai apa itu postpartum dan bagaimana cara terbaik melaluinya. 

Kamu Perlu Tahu, Inilah Perawatan Impetigo pada Anak

Impetigo merupakan jenis infeksi kulit yang umum terjadi pada anak. Impetigo sering terjadi di tangan, wajah dan area popok. Impetigo memang bukan penyakit serius, namun infeksi ini dapat menyebar dengan cepat. Meskipun begitu, impetigo pada anak dapat membuatnya menjadi tidak nyaman.

Berikut adalah ulasan mengenai penyebab dan cara mengatasi impetigo yang terjadi pada anak.

Tentang Impetigo

Impetigo adalah salah satu jenis infeksi kulit yang dapat dengan mudah menular dan menyebar di kulit. Impetigo ditandai dengan adanya bercak merah dan kulit yang melepuh. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri ini tentu dapat membuat anak tidak nyaman sehingga menjadi rewel karena rasa gatal. Meskipun umum terjadi, jika tidak segera ditangani akan menjadi semakin parah.

Impetigo pada anak sering terjadi saat berusia 2 hingga 5 tahun, namun infeksi ini juga dapat terjadi pada orang dewasa.

Penyebab Impetigo

Yang menjadi penyebab utama impetigo pada anak adalah infeksi bakteri, seperti bakteri Streptococcus dan Staphylococcus. Penularan impetigo dapat melalui kontak langsung anak dengan penderita impetigo, namun bisa juga terjadi karena kontak dengan benda-benda yang tekontaminasi bakteri, seperti mainan dan pakaian.

Penyebab lain impetigo pada anak adalah gigitan serangga, luka bakar, lecet pada kulit serta eksim. Impetigo juga bisa terjadi pada kondisi kulit yang sehat, yaitu ketika anak sedang terserang flu atau demam. Dalam kondisi tersebut, kulit hidung dapat terkelupas sehingga membuka jalan bagi bakteri untuk masuk dan menyebabkan infeksi pada kulit.

Jenis Impetigo pada Anak

Ada beberapa jenis impetigo pada anak, yaitu:

  • Impetigo nonbulosa

Jenis impetigo ini sering dialami oleh anak-anak. Infeksi ini ditandai dengan munculnya lepuhan di sekitar wajah atau hidung dan mulut. Kemudian, lepuhan tersebut akan menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Lepuhan tersebut dapat dengan mudah pecah karena gesekan dengan pakaian atau tergaruk. Setelah iu, cairan yang keluar dari lepuhan itu bisa mengiritasi bagian kulit di sekitarnya. Hal itu dapat menyebabkan kulit menjadi merah, kemudian akan menciptakan bekas luka berwarna cokelat.

Dalam kasus lain yang lebih parah, impetigo nonbulosa bisa muncul dengan tanda yang lain, seperti lemas, demam, kelenjar getah bening yang membengkak serta nyeri.

Impetigo jenis nonbulosa umumnya tidak menimbulkan rasa nyeri, namun terasa sangat gatal sehingga anak akan merasa tidak nyaman dan selalu ingin menggaruk kulitnya.

  • Impetigo bulosa

Jenis yang kedua adalah impetigo nonbulosa. Jenis yang ini tidak umum terjadi pada anak tetapi dapat menyerang bayi yang baru lahir hingga usia 2 tahun. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri Staphylococcus dan dapat menyebabkan lepuhan yang besar hingga berukuran 2 cm.

Lepuhan tersebut biasanya terjadi di lipatan tubuh seperti siku, letiak, lutut serta selangkangan. Jika dibandingkan dengan jenis nonbulosa, impetigo bulosa lebih sering menimbulkan rasa sakit pada anak sehingga anak menjadi lebih sering rewel.

Mengatasi Impetigo pada Anak

Jika anak terserang impetigo, sebaiknya segera membawanya ke dokter supaya diperiksa dan diresepkan obat. Setelah mengetahui kondisi anak, dokter akan meresepkan obat, biasanya berupa salep, tablet dan sirop.

Selain memberikan antibiotik, dokter juga akan memberikan obat Pereda gatal seperti bedak caladine atau antihistamin.

Supaya impetigo segera pulih, sebaiknya ibu memantau anak agak anak tidak menggaruk kulitnya. Ibu juga harus memeprhatikan kebersihan tubuh anak serta lingkungan dan pakaian anak.

Itulah ulasan tentang cara mengatasi impetigo pada anak. Selalu jaga kebersihan supaya buah hati tidak terserang infeksi impetigo ya, bunda.